Ekonomi

Kenaikan Biaya Hidup di Taiwan Diperkirakan Capai 8,77 Persen

Kenaikan Biaya Hidup di Taiwan Diperkirakan Capai 8,77 Persen

Di tengah kabar pertumbuhan ekonomi Taiwan yang melesat berkat ekspor chip AI, muncul sinyal berbeda dari sisi rumah tangga. Survei terbaru Academia Sinica menunjukkan kenaikan biaya hidup di Taiwan mulai dirasakan dan diantisipasi masyarakat, bahkan sebelum tercermin penuh dalam data inflasi resmi. Bagi pekerja migran Indonesia (PMI) dan pelajar yang menggantungkan penghasilan dalam dolar Taiwan (NT$), tren ini penting untuk dipahami agar dapat menyesuaikan perencanaan keuangan.

Konsumen Taiwan Perkirakan Biaya Hidup Naik 8,77 Persen

Institut Ekonomi Academia Sinica merilis hasil Taiwan Consumer Expectations and Policy Response Survey yang menunjukkan bahwa konsumen Taiwan memperkirakan biaya hidup mereka akan naik rata-rata 8,77 persen dalam 12 bulan ke depan. Survei yang dilakukan secara triwulanan sejak awal tahun ini mencatat bahwa 63,17 persen responden yang disurvei pada Maret memperkirakan biaya hidup akan terus meningkat.

Peneliti senior Institut Ekonomi Academia Sinica, Yang Shu-chun, menjelaskan bahwa hasil survei menunjukkan masyarakat mulai mengantisipasi inflasi lebih tinggi bahkan sebelum tercermin dalam statistik resmi. Meski Indeks Harga Konsumen (CPI) Taiwan hanya naik 1,20 persen secara tahunan pada Maret, publik sudah memperkirakan tekanan harga yang lebih kuat ke depan.

Pasar tradisional di Taipei tempat warga membeli kebutuhan sehari-hari di tengah kenaikan biaya hidup Taiwan
Harga bahan pangan menjadi salah satu pos pengeluaran yang paling terasa naik bagi warga Taiwan

Transportasi dan Pangan Jadi Beban Terbesar

Dari seluruh kategori yang disurvei, konsumen memperkirakan biaya transportasi dan energi akan naik paling tinggi, yakni rata-rata 15,87 persen dalam setahun ke depan, disusul oleh biaya pangan dan makan di luar rumah sebesar 12,54 persen. Lonjakan ini erat kaitannya dengan konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran sejak Februari, yang mendorong naiknya harga energi global serta biaya transportasi dan bahan bakar.

Meski langkah-langkah pemerintah Taiwan membantu meredam dampak kenaikan harga energi internasional, CPI Taiwan telah melampaui ambang batas peringatan inflasi pemerintah sebesar 2 persen pada Mei dan Juni. Indeks harga impor, yang diukur dalam dolar Taiwan baru, turut melonjak 23,07 persen secara tahunan pada Juni, menandakan tekanan biaya eksternal yang semakin besar.

Harga Properti Tetap Diperkirakan Naik

Meski pasar properti mulai mendingin menyusul putaran ketujuh kontrol kredit selektif oleh bank sentral, lebih dari separuh responden survei masih memperkirakan harga rumah akan naik dalam enam bulan ke depan. Sebanyak 53,11 persen responden memperkirakan kenaikan harga rumah lebih lanjut, meski rata-rata perkiraan kenaikannya menyempit menjadi 2,04 persen.

Paradoks di Balik Ekonomi yang Sedang Booming

Ironisnya, kekhawatiran soal biaya hidup ini muncul di tengah kabar gembira soal ekonomi Taiwan yang diproyeksikan tumbuh tercepat dalam lebih dari satu dekade tahun ini. Academia Sinica bahkan menaikkan proyeksi pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) Taiwan tahun ini menjadi 10,16 persen, jauh di atas proyeksi 3,71 persen yang dibuat Desember tahun lalu, didorong oleh permintaan global yang tinggi terhadap infrastruktur kecerdasan buatan (AI).

Namun pertumbuhan ekonomi yang pesat ini rupanya tidak serta-merta menenangkan kekhawatiran rumah tangga soal biaya hidup sehari-hari. Konsumsi harga rata-rata diperkirakan naik 1,95 persen tahun ini, sementara harga produsen diperkirakan melonjak 10,69 persen dari tahun sebelumnya, menandakan bahwa dunia usaha semakin banyak membebankan kenaikan biaya kepada konsumen.

Stasiun pengisian bahan bakar CPC di Taiwan, sektor transportasi yang diperkirakan naik paling tinggi
Biaya transportasi dan energi diperkirakan naik paling tinggi di antara kategori pengeluaran lainnya

Dampak bagi Pekerja Migran dan Pelajar Indonesia

Bagi PMI dan pelajar Indonesia yang tinggal di Taiwan, kenaikan biaya hidup ini terutama akan terasa pada tiga hal: biaya transportasi harian (termasuk sepeda motor dan angkutan umum), harga makan di luar seperti bento dan makanan cepat saji yang menjadi andalan sehari-hari, serta potensi kenaikan sewa tempat tinggal seiring tren harga properti yang masih naik meski melambat.

Beberapa langkah sederhana yang bisa dipertimbangkan untuk menghadapi tren ini antara lain:

  • Mulai mencatat pengeluaran bulanan untuk mengidentifikasi pos biaya yang paling cepat naik
  • Memanfaatkan promo dan diskon di minimarket atau supermarket lokal untuk kebutuhan pangan
  • Mempertimbangkan transportasi umum dibandingkan kendaraan pribadi bila memungkinkan, mengingat biaya bahan bakar diperkirakan naik paling tajam
  • Menyisihkan sebagian penghasilan sebagai dana cadangan mengingat proyeksi kenaikan harga masih akan berlanjut hingga tahun depan

Tren kenaikan biaya hidup ini melengkapi laporan sebelumnya mengenai pertumbuhan ekonomi Taiwan yang melesat berkat ekspor chip AI, yang menunjukkan bahwa pesatnya pertumbuhan di level makro tidak selalu langsung dirasakan sebagai kemudahan di level rumah tangga.

Bantuan Tunai Dinilai Kurang Efektif

Menariknya, survei Academia Sinica turut mengukur kecenderungan konsumsi marjinal (marginal propensity to consume/MPC) masyarakat Taiwan, yang berada di angka 0,29, sementara survei telepon terpisah mencatat angka 0,15, mendekati angka 0,16 yang tercatat setelah program bantuan tunai universal NT$6.000 pemerintah pada 2023. Karena kedua estimasi tersebut jauh di bawah satu, institut menyimpulkan bahwa bantuan tunai universal kemungkinan hanya berdampak terbatas terhadap peningkatan konsumsi maupun permintaan domestik.

Yang menyarankan bahwa bantuan tunai bersyarat, dibandingkan bantuan yang dibagikan secara merata tanpa syarat, akan lebih efektif dalam mendorong konsumsi masyarakat.

Perbandingan Biaya Hidup Taiwan dengan Negara Lain

Fenomena kenaikan biaya hidup di Taiwan ini juga sejalan dengan tren regional yang lebih luas. Data terbaru dari platform pembanding biaya hidup internasional Numbeo menunjukkan bahwa pada 2026, biaya hidup di Taiwan mulai menyamai bahkan melampaui sejumlah kategori pengeluaran di Jepang, negara yang selama ini dikenal memiliki biaya hidup lebih tinggi di kawasan Asia Timur. Harga makan di restoran di Taipei kini berada di kisaran 95 hingga 105 persen dari harga di Tokyo, sementara upah rata-rata di Taiwan masih jauh tertinggal dibandingkan Jepang.

Kesenjangan antara kenaikan harga dan pertumbuhan upah inilah yang membuat tekanan finansial semakin terasa bagi rumah tangga Taiwan, termasuk warga asing yang bekerja dengan skema gaji tetap. Karena lebih dari 70 persen makan di Taiwan dilakukan di luar rumah, kenaikan harga pangan langsung berdampak pada pengeluaran harian, berbeda dengan negara-negara yang budaya masaknya lebih dominan di rumah tangga.

Faktor Global yang Memengaruhi Harga di Taiwan

Selain faktor domestik, pelemahan mata uang di sejumlah negara mitra dagang dan gejolak geopolitik turut memengaruhi harga barang impor di Taiwan. Sebagai perekonomian yang sangat bergantung pada bahan bakar dan energi impor, termasuk gas alam yang sebagian besar melewati Selat Hormuz, Taiwan cukup rentan terhadap gejolak harga energi global. Kondisi ini menjadi salah satu alasan mengapa biaya transportasi dan energi diperkirakan naik paling tajam dibandingkan kategori pengeluaran lainnya dalam survei Academia Sinica.

Kesimpulan

Survei terbaru ini menegaskan bahwa kenaikan biaya hidup di Taiwan menjadi kekhawatiran nyata di tengah pertumbuhan ekonomi yang justru sedang berada di puncaknya. Kenaikan harga transportasi, energi, dan pangan menjadi tekanan paling terasa bagi rumah tangga, termasuk bagi warga negara asing yang tinggal dan bekerja di Taiwan. Memantau tren harga dan menyesuaikan pengelolaan keuangan sejak dini akan membantu PMI dan pelajar Indonesia tetap siap menghadapi perubahan biaya hidup yang diperkirakan berlanjut hingga tahun depan.

Sumber: Focus Taiwan, Taipei Times