Permintaan atas lowongan kerja hijau di Taiwan mencatat rekor tertinggi dalam satu dekade terakhir. Menurut laporan terbaru Badan Riset Lingkungan Nasional (National Environmental Research Academy/NERA) di bawah Kementerian Lingkungan Hidup Taiwan, jumlah lowongan kerja kolar hijau kini mencapai hampir 30.000 posisi setiap bulan, naik tiga kali lipat dibanding satu dekade lalu.
Lonjakan ini terjadi seiring makin ketatnya aturan net zero, penerapan biaya karbon, dan tekanan dari rantai pasok global yang menuntut standar keberlanjutan lebih tinggi. Bagi masyarakat Indonesia yang bekerja, kuliah, atau berencana mencari peluang karier di Taiwan, tren ini membuka babak baru di pasar tenaga kerja.
Apa Itu Pekerjaan Kolar Hijau?
Istilah “kolar hijau” merujuk pada pekerjaan yang berkaitan langsung dengan upaya pengurangan emisi karbon, efisiensi energi, dan kepatuhan terhadap regulasi lingkungan. Kementerian Lingkungan Hidup Taiwan telah mengidentifikasi lebih dari 1.600 kata kunci terkait keberlanjutan yang digunakan untuk memetakan lowongan ini di platform pencari kerja terbesar Taiwan, 104 Job Bank.
Pekerjaan ini tidak terbatas pada sektor lingkungan saja. Kolar hijau kini menyebar ke berbagai industri, mulai dari manufaktur, teknologi informasi, hingga jasa keuangan.

Mengapa Lowongan Kerja Hijau Taiwan Capai Rekor 10 Tahun
Berdasarkan Laporan Ketenagakerjaan Talenta Kolar Hijau semester pertama 2026, rata-rata 4.299 perusahaan merekrut tenaga kerja hijau setiap bulan, atau sekitar 8 persen dari seluruh perusahaan yang membuka lowongan di Taiwan. Angka ini jauh meningkat dibanding tahun 2017, saat lowongan kolar hijau hanya sekitar 7.700 posisi per bulan.
Direktur Jenderal NERA, Chang Shun-chin, mengatakan bahwa perusahaan-perusahaan Taiwan menghadapi tekanan ganda: kepatuhan hukum domestik serta persaingan internasional. Penerapan biaya karbon, mekanisme penyesuaian batas karbon Uni Eropa (CBAM), dan aturan pengungkapan keberlanjutan baru membuat kebutuhan talenta hijau semakin mendesak.
Kesenjangan Talenta Capai 230.000 Orang
Meski permintaan tinggi, pasokan tenaga kerja terampil belum mengimbangi. Dari sekitar 1,2 juta lowongan yang tercatat di 104 Job Bank, sekitar 820.000 di antaranya membutuhkan minimal satu keahlian hijau. Namun, hanya sekitar 590.000 pencari kerja yang memenuhi kualifikasi dan aktif melamar. Artinya, terdapat kesenjangan sekitar 230.000 talenta hijau yang belum terisi.
Kesenjangan ini terbesar justru terjadi pada bidang perangkat lunak dan teknik, disusul bioteknologi, riset medis, serta manajemen produksi.
Sektor Apa Saja yang Membutuhkan Tenaga Kerja Hijau?
Beberapa sektor yang mencatat permintaan tertinggi antara lain:
- Semikonduktor dan teknologi informasi dan komunikasi (ICT), dengan sekitar 6.000 posisi belum terisi atau 21 persen dari total kesenjangan.
- Manufaktur dan konstruksi.
- Jasa keuangan dan perbankan, terutama untuk peran terkait pengungkapan keberlanjutan (ESG).
- Efisiensi energi, dengan median gaji tertinggi di antara seluruh kategori kolar hijau.
Peran Kecerdasan Buatan dalam Industri Hijau
Menariknya, posisi yang menggabungkan keahlian hijau dan kecerdasan buatan (AI) melonjak signifikan dalam lima tahun terakhir. Perusahaan semakin membutuhkan tenaga kerja yang mampu mengintegrasikan AI ke dalam inventarisasi karbon, pemeliharaan peralatan, manufaktur pintar, hingga pengembangan produk ramah lingkungan.

Gaji dan Peluang untuk Lulusan Baru
Laporan ini sengaja dirilis pada musim pencarian kerja lulusan baru. Beberapa poin penting bagi pencari kerja pemula:
- Sekitar 95 persen lowongan kolar hijau menerima pelamar dengan gelar sarjana atau di bawahnya.
- Hampir 60 persen posisi terbuka untuk lulusan baru tanpa syarat latar belakang akademik tertentu.
- 92 persen lowongan menerima kandidat dengan pengalaman kerja kurang dari lima tahun.
- Median gaji awal lowongan kolar hijau sekitar 5 persen lebih tinggi dibanding rata-rata pasar kerja secara umum.
Untuk mendukung pertumbuhan talenta ini, Kementerian Lingkungan Hidup Taiwan telah menggandeng puluhan universitas nasional dalam program pelatihan bersertifikasi net zero, sekaligus meluncurkan platform informasi terpadu bernama Green Collar Information Platform.
Dampak bagi Pekerja dan Pelajar Indonesia di Taiwan
Tren ini relevan bagi pekerja migran, mahasiswa, dan pencari kerja asal Indonesia yang tinggal di Taiwan. Dengan makin terbukanya lowongan bagi lulusan baru tanpa syarat jurusan spesifik, peluang untuk beralih ke sektor hijau menjadi lebih mudah diakses, terutama bagi mereka yang menempuh studi teknik, sains, atau bisnis di Taiwan.
Selain itu, sertifikasi net zero yang ditawarkan berbagai universitas Taiwan juga terbuka bagi mahasiswa internasional, sehingga bisa menjadi nilai tambah saat melamar kerja di industri manufaktur maupun teknologi Taiwan yang kini banyak bergeser ke arah keberlanjutan.
Baca juga: MID Plus, platform identitas digital baru Taiwan.
Kesimpulan
Lonjakan lowongan kerja hijau Taiwan mencerminkan transformasi besar dunia industri menuju target net zero 2050. Meski permintaan tenaga kerja terus meningkat, kesenjangan talenta yang masih lebar membuka peluang besar, khususnya bagi lulusan baru dan pekerja yang ingin menambah keahlian di bidang keberlanjutan dan teknologi hijau.
Informasi lebih lanjut mengenai laporan ini dapat dibaca melalui Taipei Times dan Taiwan News.