Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Taiwan (CDC Taiwan) mengonfirmasi kasus virus Zika di Taiwan pertama pada tahun ini, sekaligus mengingatkan masyarakat untuk lebih waspada terhadap gigitan nyamuk menyusul munculnya tiga kasus baru Japanese encephalitis dalam sepekan terakhir. Kabar ini penting diketahui oleh warga negara Indonesia (WNI) yang tinggal dan bekerja di Taiwan, mengingat sebagian besar kasus Zika di Taiwan selama ini berasal dari wilayah Asia Tenggara.
Kronologi Kasus Virus Zika di Taiwan
Wakil Kepala CDC Taiwan sekaligus juru bicara, Tseng Shu-hui, menjelaskan bahwa kasus ini merupakan yang pertama di Taiwan dalam kurun waktu sekitar dua tahun terakhir. Pasien adalah seorang pria asal Taiwan berusia 30-an tahun yang tinggal di wilayah utara Taiwan. Ia diduga digigit nyamuk saat melakukan perjalanan ke Thailand bulan lalu.
Menurut dokter CDC, Lin Yung-ching, pasien mulai mengalami gejala seperti demam, pusing, dan kepala terasa berat setelah kembali dari Thailand. Tiga hari setelah gejala pertama muncul, ia mengalami ruam di punggung dan anggota tubuhnya, lalu mencari perawatan medis di rumah sakit sebelum akhirnya beristirahat di rumah.
Dokter yang menanganinya cukup waspada dan langsung melaporkan kasus tersebut sebagai dugaan infeksi virus Zika, sehingga proses konfirmasi dapat dilakukan dengan cepat.

Gejala dan Bahaya Virus Zika
Direktur Pusat Intelijen Epidemi CDC Taiwan, Guo Hung-wei, menyebutkan bahwa sejak 2016, Taiwan telah mencatat 31 kasus virus Zika, dan seluruhnya merupakan kasus impor yang sebagian besar berasal dari negara-negara Asia Tenggara. Di luar 13 kasus yang tercatat pada 2016 akibat wabah global saat itu, jumlah kasus tahunan sejak itu berkisar antara nol hingga empat kasus.
Infeksi virus Zika pada orang dewasa umumnya bergejala ringan, dengan gejala yang mirip namun biasanya lebih ringan dibandingkan demam berdarah. Gejala yang umum meliputi:
- Demam ringan
- Ruam kulit
- Nyeri sendi dan otot
- Mata merah (konjungtivitis)
- Sakit kepala
Risiko bagi Ibu Hamil
Meski gejalanya cenderung ringan pada orang dewasa, virus Zika dapat menimbulkan cacat lahir serius apabila menginfeksi ibu hamil. CDC Taiwan secara khusus mengimbau perempuan hamil maupun yang sedang merencanakan kehamilan untuk sementara waktu menghindari bepergian ke daerah yang melaporkan penyebaran virus Zika, termasuk sejumlah negara di Asia Tenggara.
Bagi pekerja migran Indonesia (PMI) perempuan di Taiwan yang berencana pulang kampung atau bepergian ke negara berisiko, informasi ini penting untuk diperhatikan sebelum merencanakan perjalanan.
Kasus Japanese Encephalitis Turut Meningkat
Selain kasus Zika, CDC Taiwan turut melaporkan tiga kasus baru Japanese encephalitis (radang otak Jepang) yang dikonfirmasi pekan lalu di Distrik Guanyin dan Taoyuan, Kota Taoyuan, serta Kecamatan Huatan, Kabupaten Changhua. Ketiga pasien berusia 70-an tahun dan mulai mengalami gejala bulan lalu, meliputi pusing, sakit kepala, diare, demam, lemas, hingga penurunan kesadaran.
Wilayah Berisiko Tinggi
Tseng menjelaskan bahwa meskipun sebagian besar infeksi Japanese encephalitis tidak bergejala atau hanya menimbulkan gejala ringan, kurang dari 1 persen kasus dapat berkembang menjadi radang otak akut dengan tingkat kematian mencapai 30 persen. Sebanyak 30 hingga 50 persen penyintas mengalami kerusakan saraf permanen.
Musim penularan Japanese encephalitis di Taiwan biasanya berlangsung antara Mei hingga Oktober, dengan puncak kasus pada Juni dan Juli. Ketiga pasien terbaru tinggal di dekat lingkungan berisiko tinggi seperti sawah, kandang merpati, atau kandang babi, yang cenderung memiliki kepadatan nyamuk lebih tinggi karena penyakit ini bersifat zoonosis atau menular antara hewan dan manusia.

Imbauan bagi Pekerja Migran Indonesia di Taiwan
Baik virus Zika maupun Japanese encephalitis merupakan penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk dan tidak menular antarmanusia. Namun keduanya tetap perlu diwaspadai, terutama oleh PMI yang bekerja di sektor pertanian, peternakan, atau tinggal di dekat sawah dan kandang ternak, karena wilayah tersebut termasuk kategori berisiko tinggi.
Nyamuk pembawa Japanese encephalitis lebih aktif pada waktu fajar dan senja, sehingga warga yang tinggal di dekat lingkungan berisiko tinggi disarankan menghindari aktivitas luar ruangan pada jam-jam tersebut. Bagi yang bekerja atau tinggal di area rawan, CDC Taiwan menyarankan konsultasi dengan dokter mengenai vaksin Japanese encephalitis dengan biaya mandiri, meski dua dosis vaksin ini sudah termasuk dalam Jadwal Imunisasi Anak di Taiwan.
Cara Mencegah Gigitan Nyamuk
Beberapa langkah sederhana berikut dapat membantu mengurangi risiko digigit nyamuk pembawa virus, baik di lingkungan tempat tinggal maupun saat bepergian:
- Gunakan losion atau semprotan anti-nyamuk, terutama saat beraktivitas di luar ruangan pada pagi dan sore hari
- Kenakan pakaian lengan panjang saat berada di area berisiko tinggi seperti sawah atau peternakan
- Pasang kelambu atau kasa nyamuk di tempat tinggal
- Buang genangan air di sekitar rumah atau asrama pekerja yang dapat menjadi tempat berkembang biak nyamuk
- Segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami demam, ruam, atau gejala mencurigakan lainnya setelah bepergian ke luar negeri
Sekilas tentang Virus Zika secara Global
Virus Zika pertama kali diidentifikasi pada 1947 di Uganda dan sempat menjadi perhatian dunia saat wabah besar melanda kawasan Amerika Latin pada 2015-2016, yang berujung pada lonjakan kasus mikrosefali pada bayi yang lahir dari ibu terinfeksi. Sejak saat itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan virus ini sebagai salah satu penyakit tropis yang perlu terus dipantau, khususnya di negara-negara dengan populasi nyamuk Aedes yang tinggi seperti Indonesia, Thailand, Filipina, dan sebagian besar kawasan Asia Tenggara lainnya.
Karena nyamuk Aedes yang membawa virus Zika juga menjadi vektor utama demam berdarah dan chikungunya, ketiga penyakit ini kerap sulit dibedakan hanya dari gejala awal. Pemeriksaan laboratorium tetap menjadi cara paling akurat untuk memastikan diagnosis.
Perbedaan Gejala Zika dan Demam Berdarah
Meski sama-sama disebabkan oleh gigitan nyamuk Aedes dan memiliki gejala awal yang mirip, terdapat beberapa perbedaan yang dapat membantu membedakan virus Zika dengan demam berdarah. Demam pada Zika umumnya lebih ringan dan berlangsung lebih singkat, sementara ruam kulit dan mata merah lebih sering ditemukan pada pasien Zika dibandingkan demam berdarah. Di sisi lain, demam berdarah lebih berisiko menimbulkan komplikasi serius seperti penurunan trombosit dan perdarahan, sehingga tetap memerlukan kewaspadaan tinggi terlepas dari diagnosis akhirnya.
Bagi WNI di Taiwan yang baru kembali dari bepergian ke luar negeri, terutama ke negara-negara Asia Tenggara, dan mengalami gejala demam disertai ruam, sebaiknya segera memberi tahu petugas medis mengenai riwayat perjalanan tersebut agar dapat ditangani dengan tepat dan cepat, sebagaimana yang dilakukan oleh dokter yang menangani kasus virus Zika di Taiwan kali ini.
Kesimpulan
Konfirmasi kasus virus Zika di Taiwan yang pertama tahun ini menjadi pengingat penting bagi seluruh warga, termasuk komunitas Indonesia, untuk tetap waspada terhadap penyakit yang ditularkan nyamuk. Meski risiko penularan antarmanusia tidak ada, dampaknya bisa serius terutama bagi ibu hamil dan kelompok rentan lainnya. Menjaga kebersihan lingkungan serta melindungi diri dari gigitan nyamuk tetap menjadi langkah pencegahan paling efektif, baik di Taiwan maupun saat bepergian ke negara lain.
Untuk informasi lain seputar kesehatan warga Indonesia di Taiwan, baca juga artikel kami tentang kasus demam berdarah di Taiwan yang turut meningkat menjelang musim hujan.
Sumber: Taipei Times, Taiwan CDC