Pendidikan

Keluarga Angkat Taiwan Dicari untuk Dampingi Pelajar Asing

Keluarga Angkat Taiwan Dicari untuk Dampingi Pelajar Asing

Kementerian Pendidikan Taiwan (MOE) tengah gencar mencari lebih banyak keluarga angkat Taiwan untuk mendampingi pelajar asing yang belajar di berbagai universitas di pulau ini. Langkah ini diambil seiring populasi mahasiswa internasional di Taiwan yang terus melonjak dan kini telah melampaui 140 ribu orang.

Program keluarga angkat Taiwan bukanlah program homestay berbayar seperti yang umum dijumpai di beberapa negara lain. Sebaliknya, program ini berfokus pada pertukaran budaya antara pelajar asing dan keluarga lokal Taiwan, memberi kesempatan bagi mahasiswa internasional untuk mengenal kehidupan sehari-hari masyarakat Taiwan secara lebih dekat.

Populasi Pelajar Asing Taiwan Terus Meningkat

Berdasarkan data yang dirilis Kementerian Pendidikan, jumlah mahasiswa asing di Taiwan mencapai 123 ribu pada tahun ajaran 2024-2025, lalu melonjak melampaui 140 ribu pada tahun ajaran 2025-2026. Pertumbuhan pesat ini menandai pemulihan penuh sektor pendidikan internasional Taiwan pasca pandemi.

Mahasiswa asal Vietnam menyumbang sekitar 30 persen dari total populasi pelajar asing tersebut, disusul oleh mahasiswa dari Indonesia, Malaysia, dan Jepang. Angka ini menegaskan posisi Indonesia sebagai salah satu negara sumber pelajar internasional terbesar bagi Taiwan.

Mengapa Program Keluarga Angkat Dibutuhkan?

Seiring bertambahnya jumlah pelajar asing, kebutuhan akan pendampingan budaya pun semakin mendesak. Kementerian Pendidikan menggelar sesi sosialisasi di Kaohsiung untuk mempromosikan program ini kepada lebih banyak rumah tangga Taiwan.

Program ini mempertemukan pelajar asing dengan keluarga Taiwan untuk kegiatan bersama pada waktu luang, seperti:

  • Makan bersama dan mengenal masakan rumahan khas Taiwan
  • Mengikuti perayaan tradisional dan hari besar keagamaan setempat
  • Berkunjung ke tempat wisata lokal bersama anggota keluarga angkat
  • Berlatih percakapan bahasa Mandarin dalam suasana santai

Berbeda dengan homestay berbayar, keluarga angkat dalam program ini tidak menyediakan akomodasi tempat tinggal. Fokus utamanya murni pada pertukaran budaya dan membangun jejaring sosial bagi pelajar asing yang jauh dari kampung halaman.

Manfaat bagi Pelajar Indonesia di Taiwan

Bagi mahasiswa Indonesia yang tengah menempuh studi di Taiwan, program keluarga angkat Taiwan bisa menjadi jembatan penting untuk beradaptasi dengan budaya setempat. Selain membantu mengurangi rasa rindu kampung halaman, program ini juga membuka peluang membangun relasi jangka panjang dengan masyarakat lokal.

Kerja Sama Pendidikan Taiwan-Indonesia Kian Erat

Selain program keluarga angkat, hubungan pendidikan antara Taiwan dan Indonesia juga terus diperkuat lewat berbagai program lain. Sebelumnya, Taiwan turut melatih insinyur muda Indonesia lewat program pelatihan semikonduktor berbasis AI, yang menjadi bukti nyata kerja sama pendidikan kedua negara semakin luas, tidak hanya di jenjang universitas reguler tetapi juga pendidikan vokasi dan teknik.

Selain itu, ratusan perjanjian kerja sama akademik telah ditandatangani antara universitas di Taiwan dan Indonesia. Sejumlah beasiswa, termasuk program beasiswa bahasa Mandarin, juga rutin ditawarkan kepada pelajar Indonesia yang ingin mendalami bahasa dan budaya Taiwan sebelum melanjutkan studi.

Cara Bergabung dengan Program Keluarga Angkat

Bagi pelajar asing, termasuk WNI, yang tertarik mengikuti program keluarga angkat Taiwan, pendaftaran umumnya dapat dilakukan melalui kantor urusan internasional (Office of International Affairs) di masing-masing kampus. Berikut langkah umum yang dapat ditempuh:

  1. Hubungi kantor urusan internasional atau bagian kemahasiswaan di kampus tempat kuliah
  2. Isi formulir minat mengikuti program pertukaran budaya keluarga angkat
  3. Ikuti sesi pengenalan atau wawancara singkat dengan pihak kampus
  4. Tunggu proses pencocokan (matching) dengan keluarga Taiwan yang telah terdaftar

Karena program ini bersifat sukarela dan gratis, pelajar asing tidak dipungut biaya apa pun untuk berpartisipasi. Namun, ketersediaan keluarga angkat di setiap wilayah dapat berbeda-beda tergantung jumlah pendaftar dari pihak keluarga Taiwan setempat.

Dukungan Pemerintah Daerah dan Kampus

Selain Kementerian Pendidikan pusat, sejumlah pemerintah kota dan kabupaten di Taiwan turut ambil bagian mempromosikan program keluarga angkat ini. Briefing yang digelar di Kaohsiung menjadi salah satu contoh nyata bagaimana pemerintah daerah aktif menjaring partisipasi keluarga lokal, terutama di kota-kota dengan populasi kampus yang besar.

Universitas-universitas di Taiwan juga umumnya memiliki kantor urusan internasional yang bertugas menjembatani kebutuhan pelajar asing, mulai dari urusan akademik, visa, hingga program pertukaran budaya seperti keluarga angkat ini. Dengan dukungan berlapis dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan pihak kampus, program ini diharapkan dapat menjangkau lebih banyak pelajar asing di berbagai wilayah Taiwan, tidak hanya di kota-kota besar seperti Taipei.

Tantangan dalam Pelaksanaan Program

Meski memiliki banyak manfaat, program keluarga angkat Taiwan juga menghadapi sejumlah tantangan dalam pelaksanaannya. Salah satu kendala utama adalah keterbatasan jumlah keluarga Taiwan yang bersedia mendaftar sebagai keluarga angkat, terutama di luar kota-kota besar.

Selain itu, perbedaan bahasa terkadang menjadi hambatan komunikasi antara pelajar asing dan keluarga angkat, khususnya bagi mahasiswa yang belum lancar berbahasa Mandarin. Namun demikian, banyak pihak kampus menyediakan pendamping atau penerjemah pada pertemuan awal untuk membantu proses pengenalan berjalan lebih lancar.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan pelajar asing sebelum mengikuti program ini antara lain:

  • Menyesuaikan jadwal kegiatan dengan waktu luang keluarga angkat
  • Bersikap terbuka terhadap perbedaan kebiasaan dan budaya rumah tangga Taiwan
  • Menjaga komunikasi yang sopan dan proaktif dengan keluarga angkat
  • Melaporkan kepada kampus apabila mengalami kendala selama program berlangsung

Dampak Positif bagi Hubungan Antarbudaya

Program semacam ini pada dasarnya tidak hanya menguntungkan pelajar asing, tetapi juga keluarga Taiwan yang terlibat. Banyak keluarga lokal mengaku mendapatkan wawasan baru tentang budaya negara asal pelajar yang mereka dampingi, termasuk Indonesia, sekaligus mempererat semangat keterbukaan terhadap masyarakat internasional.

Dengan semakin banyaknya pelajar asing yang menetap sementara di Taiwan untuk keperluan studi, program keluarga angkat turut berperan dalam menciptakan lingkungan yang lebih ramah dan inklusif. Hal ini sejalan dengan kebijakan Taiwan yang secara konsisten berupaya menarik talenta internasional, termasuk lewat berbagai beasiswa dan kemudahan administrasi bagi mahasiswa asing.

Kabar baik lain datang dari sektor teknologi Taiwan, di mana Taiwan baru saja meluncurkan platform robot anjing buatan dalam negeri hasil kolaborasi pemerintah dan industri, menegaskan bahwa inovasi Taiwan terus berkembang di berbagai bidang, mulai dari pendidikan hingga teknologi.

Peluang Lain bagi Pelajar Asing di Taiwan

Selain program keluarga angkat, pelajar asing di Taiwan juga dapat memanfaatkan berbagai layanan pendukung lain yang disediakan pemerintah maupun kampus, seperti konseling akademik, layanan kesehatan mahasiswa, hingga klub budaya internasional. Kombinasi berbagai program ini menunjukkan keseriusan Taiwan dalam menciptakan ekosistem pendidikan yang ramah bagi mahasiswa dari berbagai negara, termasuk Indonesia.

Bagi calon mahasiswa Indonesia yang berencana melanjutkan studi di Taiwan, ada baiknya mencari informasi lebih lanjut mengenai program keluarga angkat ini sejak awal masa perkuliahan, agar dapat segera merasakan manfaatnya dalam proses adaptasi di negeri orang.

Kesimpulan

Perluasan program keluarga angkat Taiwan menjadi angin segar bagi ribuan pelajar asing, termasuk mahasiswa Indonesia, yang ingin lebih mengenal budaya dan kehidupan masyarakat Taiwan secara langsung. Dengan populasi pelajar internasional yang terus bertambah, inisiatif semacam ini diharapkan dapat memperkuat hubungan antarbudaya sekaligus mempermudah proses adaptasi mahasiswa asing selama menempuh studi di Taiwan.

Gerbang kampus universitas Taiwan tempat pelajar asing termasuk WNI menempuh studi
Semakin banyak pelajar asing termasuk dari Indonesia belajar di Taiwan
Suasana kehidupan kampus di Taiwan yang ramah bagi pelajar asing dengan program keluarga angkat
Kehidupan kampus di Taiwan turut didukung program pertukaran budaya keluarga angkat
]]>