Kesehatan

Diabetes Bukan Alasan Hindari Buah, Ini Penjelasan Ahli Taiwan

Diabetes Bukan Alasan Hindari Buah, Ini Penjelasan Ahli Taiwan

Banyak penderita diabetes di Taiwan ternyata membatasi buah untuk diabetes secara berlebihan karena kekhawatiran terhadap kadar gula, meski buah tersebut belum tentu berdampak besar terhadap lonjakan gula darah. Temuan ini diungkapkan Asosiasi Edukator Diabetes Taiwan (Taiwanese Association of Diabetes Educators) berdasarkan survei terbaru mereka.

Mitos Rasa Manis dan Indeks Glikemik

Ketua asosiasi, Ou Hung-yi, menjelaskan bahwa banyak orang keliru menyamakan rasa manis suatu makanan dengan kecepatan makanan tersebut menaikkan gula darah, yang dikenal sebagai indeks glikemik (IG). Padahal, kedua hal ini tidak selalu berkaitan.

Menurut survei yang dilakukan pada Juni 2026 terhadap 479 responden valid, sebanyak 98 persen masyarakat sudah mengenal istilah indeks glikemik. Namun, keyakinan keliru bahwa “manis berarti IG tinggi” masih sangat umum ditemui, termasuk di kalangan penderita diabetes sendiri.

75 Persen Penderita Diabetes Membatasi Buah

Dari responden yang mengidap diabetes (57 persen dari total responden), sebanyak 75 persen mengaku menghindari buah karena khawatir kandungan gulanya. Padahal, konsumsi sayur antara penderita diabetes dan non-diabetes relatif sama, sementara konsumsi buah berbeda lebih dari 30 persen. Perbedaan ini menunjukkan bahwa penghindaran buah lebih didorong oleh persepsi rasa manis, bukan pertimbangan gizi menyeluruh.

Glukometer memantau gula darah setelah konsumsi buah untuk diabetes
Pemantauan gula darah tetap penting meski pasien memilih buah dengan indeks glikemik rendah.

Buah untuk Diabetes yang Manis Tapi Rendah Indeks Glikemik

Menurut asosiasi, sejumlah buah yang terasa manis justru tergolong rendah indeks glikemik, di antaranya:

  • Ceri
  • Jambu biji
  • Stroberi
  • Anggur
  • Jeruk

Sebaliknya, ada pula makanan yang tidak terasa manis namun memiliki indeks glikemik cukup tinggi, seperti nasi putih dan roti tawar. Inilah sebabnya rasa manis saja tidak bisa dijadikan patokan utama dalam mengatur pola makan penderita diabetes.

Dampak Pembatasan Buah yang Berlebihan

Ou mengingatkan bahwa pembatasan buah yang terlalu ketat berisiko mengurangi asupan nutrisi penting, seperti serat pangan dan vitamin C, yang justru dibutuhkan tubuh untuk menjaga kesehatan secara keseluruhan, termasuk pengendalian gula darah jangka panjang.

Ilustrasi konsultasi ahli gizi dengan pasien diabetes soal pola makan buah
Konsultasi dengan ahli gizi dapat membantu penderita diabetes menyusun pola makan buah yang tepat.

Rekomendasi Ahli Gizi untuk Penderita Diabetes

Ahli gizi Ho Ming-hwa turut menambahkan rekomendasi berdasarkan sejumlah studi terbaru. Menurutnya, mengonsumsi buah dalam porsi wajar, sekitar dua porsi per hari, tetap bisa dilakukan penderita diabetes selama memperhatikan jenis dan jumlahnya.

Beberapa tips praktis yang dapat diterapkan:

  • Pilih buah dengan indeks glikemik rendah hingga sedang, seperti yang disebutkan di atas.
  • Konsumsi buah dalam bentuk utuh, bukan jus, agar serat tetap terjaga.
  • Bagi porsi buah ke beberapa waktu makan, bukan sekaligus dalam jumlah besar.
  • Pantau kadar gula darah secara berkala untuk melihat respons tubuh terhadap jenis buah tertentu.
  • Konsultasikan pola makan dengan dokter atau ahli gizi sebelum mengubah kebiasaan makan secara drastis.

Relevansi bagi Komunitas Indonesia di Taiwan

Informasi ini penting bagi pekerja migran dan warga Indonesia di Taiwan yang hidup dengan diabetes atau merawat anggota keluarga dengan kondisi tersebut. Akses terhadap buah segar di Taiwan cukup luas, sehingga edukasi mengenai indeks glikemik dapat membantu memilih jenis buah yang tetap aman dikonsumsi tanpa harus menghindarinya sama sekali.

Baca juga: Peluang lowongan kerja hijau Taiwan bagi lulusan baru.

Kesimpulan

Rasa manis pada buah untuk diabetes tidak selalu mencerminkan dampaknya terhadap gula darah. Dengan memahami konsep indeks glikemik secara lebih tepat, penderita diabetes di Taiwan, termasuk warga Indonesia yang tinggal di sana, dapat tetap menikmati buah-buahan tanpa mengorbankan asupan nutrisi penting bagi tubuh.

Simak laporan selengkapnya melalui Taiwan News.