Industri drone Taiwan tengah mengalami lonjakan pertumbuhan yang mencolok. Ekspor drone jadi Taiwan ke Eropa melonjak lebih dari 40 kali lipat sepanjang 2025 dan terus meningkat pada awal 2026, seiring negara-negara Barat yang berupaya mengurangi ketergantungan pada drone buatan Tiongkok akibat kekhawatiran keamanan siber dan ketahanan rantai pasok.
Momentum ini semakin diperkuat dengan kunjungan delegasi kantor dagang Uni Eropa ke Chiayi, kawasan yang kini menjelma menjadi pusat industri drone Taiwan, untuk mempererat kerja sama rantai pasok kedua pihak. Berikut rangkuman lengkap perkembangan industri drone Taiwan dan mengapa ini penting untuk diperhatikan komunitas Indonesia di Taiwan.
Lonjakan Ekspor Drone Taiwan ke Eropa
Berdasarkan data resmi, ekspor drone jadi Taiwan ke Eropa mencapai 136.010 unit hanya dalam kuartal pertama 2026, angka yang telah melampaui total ekspor sepanjang tahun 2025. Nilai ekspor drone Taiwan pada kuartal pertama 2026 bahkan telah melampaui total nilai ekspor sepanjang 2025 secara keseluruhan.
Pertumbuhan pesat ini didorong oleh upaya Taiwan membangun peran dalam rantai pasok drone “non-merah”, yakni ekosistem produksi drone yang bebas dari komponen buatan Tiongkok. Istilah ini muncul akibat ketegangan geopolitik, pelajaran dari perang Rusia-Ukraina, serta upaya Amerika Serikat dan Eropa mengurangi ketergantungan pada produsen asal Tiongkok.
Chiayi, dari “Lahan Kosong” Jadi Pusat Industri Drone
Salah satu simbol kebangkitan industri ini adalah Asia UAV AI Innovation Application R&D Center di Chiayi, Taiwan selatan. Kawasan yang dahulu disebut pejabat setempat sebagai “lahan terbengkalai” kini menjadi basis penting bagi pengembangan rantai pasok drone tepercaya Taiwan, di tengah tingginya permintaan alternatif drone non-Tiongkok.

Pusat riset ini kini menjadi rumah bagi lebih dari 50 perusahaan dan lembaga drone, serta telah menerima kunjungan perwakilan dari 36 perusahaan dari berbagai negara untuk menjalin pertukaran dengan perusahaan-perusahaan Taiwan yang berbasis di lokasi tersebut. Insinyur dari perusahaan Taiwan 7A Drones bahkan telah berkolaborasi langsung dengan mitra dari perusahaan Prancis, Parrot Drones, dalam pengujian dan pengembangan produk.
Kantor Dagang Uni Eropa Kunjungi Chiayi
Sebagai bagian dari penguatan kerja sama rantai pasok, kantor perwakilan dagang Uni Eropa melakukan kunjungan ke Chiayi untuk mempererat hubungan di sektor industri drone. Kunjungan ini menegaskan komitmen Eropa untuk menjadikan Taiwan sebagai mitra utama dalam membangun rantai pasok drone yang transparan dan tepercaya.
Menteri Ekonomi Taiwan, Kung Ming-hsin, menyebutkan bahwa Taiwan telah menandatangani nota kesepahaman dengan sejumlah negara Eropa, termasuk Prancis, Amerika Serikat, Polandia, dan Republik Ceko, untuk memperluas kerja sama teknologi dan rantai pasok drone.
Bukan Sekadar Kontrak Manufaktur
Ketua Industrial Technology Research Institute (ITRI), Wu Tsung-tsong, menegaskan bahwa Taiwan tidak bisa lagi hanya mengandalkan jalur kontrak manufaktur atau OEM seperti sebelumnya. Sebaliknya, Taiwan kini berupaya membangun ekosistem inovasi sendiri yang menggabungkan riset, desain, dan manufaktur drone dalam satu rantai nilai yang lebih tinggi.
Dampak bagi Lapangan Kerja dan Peluang Industri
Pertumbuhan industri drone Taiwan turut membuka peluang kerja baru, baik untuk tenaga kerja lokal Taiwan maupun tenaga kerja asing dengan keterampilan teknis, terutama di bidang perakitan komponen elektronik, pengujian kualitas produk, hingga logistik ekspor.
- Nilai output industri drone Taiwan meningkat dari NT$5 miliar pada 2024 menjadi NT$12,9 miliar pada 2025, dan diproyeksikan mencapai NT$20 miliar pada 2026.
- Pemerintah Taiwan menargetkan nilai industri mencapai NT$40 miliar pada 2030 melalui investasi sebesar NT$44,2 miliar hingga tahun tersebut.
- Sebagian besar ekspor ditujukan ke Republik Ceko dan Polandia, meski banyak analis meyakini tujuan akhirnya adalah Ukraina.
- Perusahaan seperti Carbon-Based Technology berencana melipatgandakan jumlah tenaga kerjanya seiring pindah ke fasilitas produksi yang tiga kali lebih besar.
Peluang bagi Pekerja Terampil di Taiwan
Perkembangan ini melengkapi capaian teknologi Taiwan lainnya, seperti platform pengembangan robot anjing buatan dalam negeri yang baru-baru ini diluncurkan. Bagi warga Indonesia yang bekerja di sektor manufaktur maupun teknik di Taiwan, pertumbuhan industri drone dapat membuka peluang baru di masa depan, khususnya bagi tenaga kerja dengan keterampilan teknis menengah yang biasanya menawarkan gaji lebih tinggi dan jenjang karier yang lebih panjang dibandingkan sektor manufaktur konvensional.
Tantangan yang Masih Dihadapi Industri Drone Taiwan
Meski pertumbuhannya pesat, sejumlah tantangan tetap membayangi industri ini. Salah satunya adalah sikap militer Taiwan yang masih relatif konservatif dalam mengadopsi sistem drone buatan dalam negeri untuk kebutuhan pertahanan, menurut sejumlah pengamat industri. Selain itu, skala produksi Taiwan saat ini masih jauh lebih kecil dibandingkan raksasa manufaktur drone asal Tiongkok, sehingga upaya membangun ekonomi skala menjadi tantangan tersendiri.
Namun demikian, para pelaku industri menilai fokus pasar internasional kini bergeser dari sekadar harga dan kecepatan pengiriman menuju kepercayaan rantai pasok, sebuah area di mana Taiwan memiliki keunggulan komparatif yang kuat berkat reputasinya di industri semikonduktor dan elektronik presisi. Penguatan industri pertahanan dalam negeri ini turut berjalan seiring dengan agenda kesiapsiagaan Taiwan, termasuk latihan pertahanan gabungan yang tengah berlangsung pekan ini.
Mengapa Rantai Pasok “Non-Merah” Menjadi Penting?
Istilah rantai pasok “non-merah” merujuk pada ekosistem produksi drone yang sepenuhnya bebas dari komponen buatan Tiongkok, termasuk chip, sistem kendali penerbangan, hingga perangkat lunak. Kekhawatiran ini muncul setelah sejumlah laporan menyebutkan bahwa sistem pelacakan pada drone buatan produsen besar asal Tiongkok berpotensi melacak posisi operatornya, sehingga memicu kekhawatiran keamanan siber di kalangan pembeli asal Barat.
Perang Rusia-Ukraina turut mempercepat tren ini. Ukraina yang awalnya banyak mengandalkan drone murah buatan Tiongkok kini beralih mencari pemasok alternatif yang dianggap lebih aman dari risiko intersepsi maupun manipulasi data. Kondisi ini membuka peluang besar bagi produsen drone Taiwan untuk mengisi kekosongan pasar tersebut.
Dukungan Kebijakan Pemerintah Taiwan
Presiden Taiwan periode sebelumnya telah mencanangkan pembentukan aliansi industri drone nasional yang mengintegrasikan sektor publik, swasta, dan lembaga riset sejak 2022. Kebijakan ini kemudian dilanjutkan pemerintahan saat ini dengan menetapkan drone sebagai salah satu dari lima industri strategis utama Taiwan, bersama semikonduktor, kecerdasan buatan, pertahanan, dan komunikasi generasi mendatang.
Kementerian Ekonomi Taiwan turut menggandeng Badan Penerbangan Sipil dan lembaga sertifikasi lainnya untuk mempercepat proses perizinan bagi perusahaan drone yang ingin memperluas kapasitas produksi maupun melakukan ekspor ke pasar internasional.
Perbandingan dengan Skala Industri Global
Meski pertumbuhannya impresif, skala industri drone Taiwan saat ini masih jauh lebih kecil dibandingkan Tiongkok yang menguasai mayoritas pasar drone komersial dunia. Karena itu, strategi Taiwan tidak difokuskan pada persaingan harga, melainkan pada diferensiasi lewat kepercayaan rantai pasok, keamanan data, dan kualitas rekayasa presisi yang menjadi keunggulan tradisional industri elektronik Taiwan.
Direktur riset UAV di Universitas Nasional Taiwan, Kang Li, menyebutkan bahwa drone modern merupakan teknologi dual-use yang dapat digunakan untuk kebutuhan sipil maupun militer, sehingga aspek keamanan siber dan privasi data yang dikumpulkan sensor drone menjadi perhatian utama para mitra dagang internasional Taiwan.
Perkembangan industri teknologi ini turut bersinggungan dengan isu ketenagakerjaan, termasuk rencana Taiwan membuka jalur pekerja migran baru dari India untuk mengisi kebutuhan tenaga kerja di berbagai sektor industri. Di dunia olahraga, kebanggaan Taiwan juga datang dari performa pemain MLB asal Taiwan, Lee Hao-yu, yang terus mencuri perhatian musim ini.
Kesimpulan
Lonjakan ekspor drone Taiwan ke Eropa dan penguatan kerja sama dengan Uni Eropa di Chiayi menandai babak baru bagi industri teknologi Taiwan dalam upayanya membangun rantai pasok drone “non-merah” yang tepercaya. Perkembangan ini tidak hanya memperkuat posisi Taiwan di panggung teknologi global, tetapi juga berpotensi membuka lebih banyak peluang kerja bagi tenaga kerja terampil, termasuk komunitas Indonesia yang bekerja di sektor manufaktur dan teknik di Taiwan.