Teknologi

Starlink Taiwan Selangkah Lagi Masuk Pasar Usai Amendemen UU

Starlink Taiwan Selangkah Lagi Masuk Pasar Usai Amendemen UU

Peluang bagi Starlink Taiwan untuk resmi masuk pasar telekomunikasi Taiwan semakin terbuka. Komite Transportasi Legislative Yuan Taiwan menyetujui amendemen awal terhadap Undang-Undang Manajemen Telekomunikasi (電信管理法) yang selama ini menjadi penghalang utama bagi operator satelit orbit rendah bumi (LEO) asing, termasuk layanan internet satelit milik SpaceX tersebut, untuk beroperasi penuh di Taiwan.

Selama ini, Undang-Undang Manajemen Telekomunikasi Taiwan mensyaratkan bahwa ketua dewan direksi operator telekomunikasi publik harus warga negara Taiwan. Aturan ini juga membatasi kepemilikan saham asing secara langsung maksimal 49 persen, dengan total kepemilikan langsung dan tidak langsung tidak boleh melebihi 60 persen. Ketentuan inilah yang selama bertahun-tahun menjadi kendala utama bagi Starlink untuk beroperasi penuh di Taiwan, mengingat SpaceX dikabarkan menginginkan kepemilikan penuh atas anak perusahaannya di setiap negara yang dimasukinya.

Amendemen yang disponsori oleh anggota parlemen dari Partai Kuomintang (KMT), Ko Ju-chun, ini akan mengecualikan operator jaringan telekomunikasi publik dari batasan kepemilikan saham tersebut, asalkan mereka memperoleh persetujuan khusus dari pemerintah. Persetujuan ini akan diberikan setelah dipastikan bahwa layanan yang ditawarkan tidak berdampak buruk terhadap keamanan jaringan telekomunikasi publik, penggunaan sumber daya telekomunikasi, perkembangan pasar telekomunikasi secara keseluruhan, keamanan nasional, atau kepentingan publik lainnya.

Antena penerima satelit di Taiwan terkait rencana masuknya Starlink Taiwan ke pasar telekomunikasi
Taiwan tengah mempertimbangkan pembukaan pasar telekomunikasi satelit bagi operator asing seperti Starlink

Menariknya, meski regulasi mulai dilonggarkan, Menteri Urusan Digital Taiwan, Lin Yi-ching, mengungkapkan bahwa SpaceX sebenarnya belum terlalu berminat masuk ke pasar Taiwan. Alasannya, cakupan jaringan 4G dan 5G di Taiwan telah mencapai 99,9 persen populasi, sehingga perusahaan tersebut menilai pasar komersial telekomunikasi Taiwan relatif terbatas dibandingkan negara lain yang jaringan seluler konvensionalnya belum semaju Taiwan.

Namun demikian, Lin menegaskan bahwa pihaknya belum yakin apakah pernyataan tersebut benar-benar mencerminkan sikap perusahaan atau hanya taktik negosiasi. Kementerian Urusan Digital disebut terus berupaya menjalin komunikasi lebih lanjut dengan SpaceX untuk membahas kemungkinan kerja sama ke depan.

Taiwan sejatinya tidak hanya bergantung pada Starlink untuk memperkuat ketahanan komunikasi satelitnya. Beberapa operator LEO lain telah lebih dulu menjajaki pasar Taiwan, di antaranya:

  • OneWeb (Eutelsat): Sudah menyediakan layanan di Taiwan dengan mengikuti regulasi kepemilikan saham yang berlaku melalui skema perwakilan lokal
  • Amazon Leo: Berencana meluncurkan lebih dari 3.200 satelit sebelum 2028 dan ditargetkan mulai beroperasi komersial pada semester pertama tahun depan, tanpa memerlukan amendemen undang-undang
  • AST SpaceMobile: Taiwan telah menandatangani nota kesepahaman dengan perusahaan ini, yang juga tidak memerlukan perubahan regulasi
Perangkat terminal Starlink yang digunakan untuk mengakses internet satelit
Terminal penerima Starlink memungkinkan akses internet berkecepatan tinggi melalui jaringan satelit orbit rendah

Alasan Strategis di Balik Pelonggaran Aturan

Pelonggaran regulasi ini tidak lepas dari kekhawatiran Taiwan terhadap ketahanan jaringan komunikasinya, terutama mengingat posisi geografis Taiwan yang rentan terhadap potensi gangguan kabel bawah laut. Sebagai pulau yang sangat bergantung pada kabel komunikasi bawah laut untuk terhubung dengan dunia luar, Taiwan menganggap penting memiliki jaringan cadangan berbasis satelit yang tangguh apabila sewaktu-waktu terjadi gangguan atau pemutusan kabel.

Tiga operator telekomunikasi besar Taiwan, yaitu Chunghwa Telecom, Taiwan Mobile, dan Far EasTone, menyatakan dukungan terhadap amendemen ini, namun tetap meminta jaminan keamanan nasional, termasuk persyaratan lokalisasi data dan keberadaan stasiun bumi (ground station) di dalam negeri. Komunitas akademik telekomunikasi Taiwan turut mendorong penerapan model serupa Jepang, di mana operator telekomunikasi lokal bermitra dengan penyedia satelit asing secara bertahap, sehingga akuntabilitas layanan satelit tidak sepenuhnya dialihdayakan ke pihak asing.

Kekhawatiran Keamanan Nasional

Sejumlah anggota parlemen turut menyuarakan kekhawatiran terkait keterlibatan Starlink dalam infrastruktur kritis Taiwan. Kekhawatiran ini sebagian dipicu oleh pernyataan kontroversial CEO SpaceX, Elon Musk, yang pernah menyebut “Taiwan adalah bagian dari China”, serta dugaan bahwa pemerintah China pernah menekan Musk agar tidak menyediakan layanan Starlink di Taiwan. Karena itu, sejumlah anggota parlemen mendorong agar kesepakatan apa pun dengan penyedia satelit asing mencakup hak kontrol stasiun bumi lokal serta jaminan bandwidth darurat.

Dampak bagi Warga Indonesia di Taiwan

Meski manfaat langsung dari masuknya Starlink Taiwan mungkin belum terasa signifikan bagi warga di kawasan perkotaan yang sudah memiliki akses 4G/5G sangat baik, kehadiran layanan internet satelit ini berpotensi memberikan manfaat khusus bagi:

  • Pekerja migran yang ditempatkan di kawasan pegunungan atau pulau-pulau terpencil dengan sinyal seluler terbatas
  • Nelayan dan pekerja di kapal penangkap ikan yang membutuhkan konektivitas saat berada jauh dari daratan
  • Situasi darurat bencana alam seperti topan, saat jaringan seluler konvensional berpotensi terganggu
  • Akses internet cadangan bagi bisnis dan komunitas yang bergantung pada konektivitas stabil

Perkembangan positif di sektor teknologi ini juga sejalan dengan kenaikan upah riil Taiwan yang turut didorong oleh booming industri elektronik dan AI. Perkembangan sektor teknologi Taiwan ini melengkapi tren positif lain di industri teknologi negara tersebut, seperti lonjakan ekspor drone Taiwan ke Eropa yang terus meningkat, menegaskan posisi Taiwan sebagai salah satu pemain penting dalam ekosistem teknologi tinggi di kawasan Asia.

Langkah Selanjutnya

Amendemen ini masih memerlukan persetujuan penuh dari sidang paripurna Legislative Yuan sebelum dapat diberlakukan secara resmi. Apabila disahkan, langkah ini berpotensi mengubah lanskap kompetisi telekomunikasi satelit Taiwan secara signifikan, mengingat Starlink mengoperasikan konstelasi satelit LEO terbesar di dunia dengan lebih dari 7.000 satelit yang mengorbit saat ini.

Selain berdampak pada persaingan pasar, masuknya operator satelit tambahan diperkirakan turut mendorong permintaan terhadap rantai pasok pendukung seperti stasiun penerima darat, perangkat terminal satelit, peralatan jaringan, hingga integrasi sistem, yang berpotensi membuka lapangan kerja baru di sektor teknologi Taiwan.

Kesimpulan

Pelonggaran regulasi yang membuka jalan bagi Starlink Taiwan ini mencerminkan upaya Taiwan memperkuat ketahanan komunikasi nasional di tengah kekhawatiran geopolitik dan risiko gangguan kabel bawah laut. Meski Starlink sendiri belum menunjukkan minat kuat untuk masuk, amendemen ini tetap membuka peluang bagi operator satelit lain untuk memperkaya pilihan konektivitas di Taiwan, sekaligus menjadi sinyal positif bagi warga asing termasuk komunitas Indonesia yang berada di kawasan dengan akses jaringan terbatas.

Sumber: Taipei Times